Tampilkan postingan dengan label rajagaluh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label rajagaluh. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Oktober 2018

MAKAM CINA KUNO DI MAJALENGKA

Bong Papandayan Munjul.
Ada makam Cina kuno di satu hutan di Kelurahan Munjul,sekira 2 km ke arah selatan dari kantor kelurahan Munjul.Tidak ada yg tahu siapa dan tahun berapa makam tsbt.Kalo dilihat dari tampilan Bong Pay ( nisan ) makam nya sepertinya memang bukan puluhan tahun lagi mungkin sudah lebih dari seratus taun umur makam cina itu.Sebagian badan Bong Pay sudah terkubur dalam ,tulisannya Huruf Cina semua,tidak ditemukan huruf atau angka latin unutuk menunjukan nama dan kapan makam itu dibuat.Asumsi sementara makam cina itu adalah seorang pemilik tanah atau hutan yg tinggalnya mungkin di sekitar Munjul.
Seperti yg kita ketahui pada jaman dulu pemerintah kolonial Belanda memberikan kesempatan kpd orang cina untuk menjadi agen disegala bidang usaha misalnya agen gula,garam dll,bahkan pada awal abad 17 orang cina diberikan hak pengolahan tanah untuk disewakan kpd pribumi,hal itu mengakibatkan orang cina jaman dulu banyak yh memiliki tanah tanah yg luas.Sebenarnya populasi orang Cina di jaman kolonial bisa dsbt lambat pertumbuhannya,karena mkn dsbbkan oleh adanya peraturan Pemerintah yg dibuat gubernur jendral Van der Capellen tg 9 Januari 1821 yg dsbt Passenstelsel,bahwa bagi orang asing yg bepergian harus membawa pas jalan atau surat jalan jika tidak maka akan didenda ( staatsblaad 1821, no 4 dan 6 ,Hardjasaputra,2002 ).Pada tahun 1867 jumlah penduduk Cina di kota Majalengka hanya 248 orang ( sumber P.Bekker 1870 ).
Di Hutan ini ada satu makam yg masih utuh di depannya lagi ada satu patok yg kemungkinan bukan makam orang.Biasanya satu makam didampingi satu cungkup yg isinya barang barang kesukaannya waktu hidup,di sebelah utaranya lagi ada susunan batu yg berbentuk makam juga namun tanpa Bong Pay.Bisa juga di tempat ini dulunya makam keluarga pemilik tanah ini..
Wallohualam.
Semoga nanti bisa terkuak misteri siapa sebenarnya yg dimakamkan di hutan yg cukup jauh dari rumah penduduk ini..
Setidaknya ada yg bisa membaca Bong Pay makamnya.







BONG RAJAGALUH.
( Keluarga "Tan " ).
Komplek pemakaman Cina ini letaknya di Rajagaluh Lor tepatnya di blok Kukulu .Ada sekitar 8 makam yg masih utuh walaupun tidak semuanya jelas tulisan di Bongpaynya.Ada satu Bong yg menarik perhatian kami yaitu satu nama yg bernama Tan Lim Nio.Kalo dikihat dari nama depannya ini mungkin yg bermarga Tan.Seperti Bong yg terdapat di Munjul ada masukan juga bahwa ada nama depan Tan .Jadi inget waktu berkunjung ke Klenteng Majalengka bahwa yg mendirikan Klenteng tertua di Kabupaten Majalengka adalah Tan ( Sui Lan ?) maaf jika salah,yg dibangun tahun 1803.
Apakah nama mereka saling berhubungan kerabat ?.Pertanyaan ini lagi lagi semakin menarik jika kita hubungkan lagi dengan seorang saudagar kaya pengusaha gula di Cirebon yang pernah diberi pangkat Mayor oleh VOC yaitu Mayor Tan Tjin Kie..!!
Pangkat Mayor disini bukan kepangkatan militer namun sbg jenjang kedudukan prestise bagi orang Cina di pulau jawa.Mayor pangkat paling tinggi mebawahi Kapten dan Letnan,tujuannya hanya untuk mengatur dan mengamankan segala urusan dalam lingkunngan komunitas Cina itu sendiri.Mayor Tan Tjin Kie atau lebih dikenal dgn sebutan Babah Tjin Kie lahir 1853 dan meninggal 1919, waktu pemakamannya diaelenggarakan secara mewah sekali dana yg dihabiskannya pun lumayan besar yaitu sekitar 70.000 gulden setara dgn 10 kg emas atau kalo dirupiahkan sebanyak 5 milyar ini menurut keterangan putranya yg bernama Tan Go Hok yg ditulis dalam buku Druk en Chics van G Kolf & Co Batavia 1919.
Jika mereka adalah satu keluarga bisa kita simpulkan otang Cina yg berada di Rajagaluh dan Majalengka khususnya yg di Munjul adalah keluarga para pengusaha besar dan bisa jadi mereka datang ke Majalengka awal mulanya dari Cirebon yg difasilitasi oleh Belanda .Fasilitas ini salah satunya adalah diberinya kebebasan untuk menjadi agen perdagangan apakah itu gula,garam ,dan hasil bumi lainnya. O..iya ada satu lagi masukan dari salah satu anggota Grumala Kang Budiyanto Abirama kebetulan pernah bertemu dgn seorang keturunan cina yg berada di Jakarta yaitu Nyonya Santi Nurhandayani ( Tan Tek Nio ) ,katanya leluhurnya ada tiga orang berasal dari Majalengka : Singapati,Wangsapati dan Candrapati.Tadinya saya agak bingung dgn ketiga nama itu,tidak mirip nama cina,tapi setelah ditelusuri ternyata memang ada nama Candrapati di Bong Majalengka Kulon,dan nama itu adalah nama inisial atau istilahnya Landihan ,dan Candrapati adalah masih satu kerabat dgn pendiri Klenteng Majalengka Tan Sui Lan Konon menurut O Mbeng pengurus klenteng Majalengka bahwa Tan Sui Lan diberi gekar setara Tumenggung oleh Kesultanan Kanoman Cirebon,apakah nama Candrapati juga pemberian Kanoman..??
semakin menarik....!!


Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, tanaman, pohon, luar ruangan dan alam

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri, luar ruangan dan alam

Gambar mungkin berisi: tanaman dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Gambar mungkin berisi: tanaman, luar ruangan dan alam

Gambar mungkin berisi: tanaman dan luar ruangan


Jumat, 28 September 2018

Peninggalan sejarah dan cagar budaya Majalengka 2

Daftar peninggalan sejarah dan cagar budaya Majalengka 2:

21. Buyut Sindujayadi
22. Buyut Cidum
23. Buyut Imbaraga
24. Buyut Pelet
25. Rumah Adat Panjalin
   
26. Makam Pangeran Sukmajati
27. Situs Sawala
28. Makam Buyut Pintu
29. Patilasan Prabu Siliwangi - Desa Pajajar, Kecamatan Rajagaluh
   
30. Badak dua - Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh

31. Buyut Mansyur - Desa Sadomas, Kecamatan Rajagaluh

32. Situs Lalantang - Desa Teja, Kecamatan Rajagaluh

33. Buyut Lukbar - Desa Sukaraja Wetan, Kecamatan Jatiwangi

34. Makam buyut Israh - Desa Argamukti, Kecamatan Argapura

35. Makam buyut Putri - Desa Cibunut, Kecamatan Argapura

36. Makam ki Samsul Kohal - Desa Sagara, Kecamatan Argapura

37. Makam buyut panyakaran - Desa Sukadana, Kecamatan Argapura

38. Makam Jaya Kusumah, Nyi masri'ah
      Kyai Suryadiningrat, Raden
      Tumenggung,  Embah H Muslim,
      Makam embah nabi hideung
      (Lokasi: Desa Gunung Wangi, Kecamatan Argapura)

39. Makam Waridah dan Makam
      Syeh Syarif Arifin
      (Lokasi: Desa Sindangwangsa, Kecamatan Palasah)

40. Makam buyut Bagi - Desa Simaglid, Kecamatan Bantarujeg

Sabtu, 15 September 2018

BATU COWAK

BATU COWAK.
Asa teu tegep,teu dadaw jeung teu rena lamun kokoloyongan teu mawa hasil,itung itung oleh oleh bawaeun nu di imah ,hasil ti miluan Kemah Budaya salian meunang elmu ti baraya seniman jg budayawan nu jadi pamilon di acara Kemah Budaya Ciparay..mangga nyanggakeun..hapunten bilih lepat tulas tulis..hapunten Nun...
Batu cowak ataua batu congklak ayana teu jauh ti lapangan tempat kemah urang ,carita Pa Encob Sobari minangka Pa R T didinya nyebutkeun yen batu cowak etateh urut alat pamilihan kuwu jaman baheula,dimana sakira taun 1832 desa Ciparay masih asup ka wilayah Rajagaluh ngaran desana oge masih Desa Cibatur,Ki Buyut Demang Centong salaku pupuhu desa Cibatur ngayakeun pamilihan pupuhu desa nya alat pikeun saha nu baris jadi pupuhu desa atau kuwu dijieun batu cowak nu jumlahna 17 cowak pikeun adu katangkasan maen congklak,sing saha anu meunang eta jadi pupuhu desa,teuing kumaha jaman harita aturan maena,mung mun diilikan cowaknateh teu jga cowak jaman ayeuna nu simetris,tadinamah suganteh batu cuaca nu pernah kapanggih di Gunung Cakra harita jg kasepuhan Pa Rais,gening aya oge di Ciparay Leuwimunding,ngan beda latar caritana.Batu Cowak ieu oge aya hubungana jg ngaran gantina Desa Cibatur jadi dera Ciparay,dimana batu cowak ieu aya disisi walungan leutik nu loba lauk parayna makana desana ganti ngaran jd Ciparay.taun 1953 tempat ieu dibebenah disaungan jg dipelakan caringin ngan tangkal caringina teu jadi mgkn teu cocok dipelak didinya sbb teu negla jga di alun2,di tempat etamah hieum jg rada paroek,mudah2an batu cowak bisa jadi situs budaya nu kapilihara..mangga kanu bade nambihan keterangan atau ngoreksi.dihaturanan..!
(Naro, 26 February 2017)

(Batu Cowak)

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
(Photo : Mang Iyan & Batu Cowak)

Rabu, 05 September 2018

GEDUNG LANDBOUW

K
edatangan Belanda pada tahun 1596 ke Nusantara yang di kemudian hari menjadi Indonesia didorong keinginan memperoleh rempah-rempah yang saat itu menjadi komoditas perdagangan utama di Eropa. Dengan berbagai cara Belanda menguasai Nusantara, seperti dengan cara perang, adu domba, intimidasi, penipuan dan lain sebagainya.
Belanda kemudian mengenalkan dan memaksa rakyat di Nusantara untuk menanam berbagai tanaman yang sebelumnya tidak dikenal rakyat setempat. Rakyat Pasundan dipaksa menanam kopi, kina, dan teh yang sebelumnya tidak pernah mereka kenal. Komoditi tanaman itu semuanya didatangkan Belanda karena laku keras di pasaran Eropa. Ahli-ahli tanaman tersebut sengaja didatangkan untuk mengajari rakyat menanam tanaman-tanaman tersebut. Bertumbuhanlah berbagai perkebunan di tanah Pasundan termasuk di Majalengka. Perkebunan teh dikembangkan di Argalingga, saat itu merupakan kecamatan atau onder distrik Soekasari, dan Cipasung, onder distrik Bantarujeg. Perkebunan kina dikembangkan di Sadarehe, yang saat itu merupakan Kecamatan atau onder distrik Rajagaluh. Perkebunan tebu di Kadipaten, Majalengka, Jatiwangi, dan Leuwimunding.
Untuk tiap pengembangan komoditas Belanda mengangkat pejabat yang disebut Mantri sehingga ada Mantri Kopi, Teh, dan Kina. Nama-nama mantri tersebut dicantumkan dalam daftar nama pejabat yang diterbitkan secara resmi oleh Pemerintah Hindia Belanda. Menurut Buku Albrecht’s Almanak  Prijai Dari Taon 1898 Kaloewaran Taon Jang Kadoewa Karangannja F. Wiggers, untuk Kabupaten Majalengka, Belanda mengangkat Mantri Gudang Kopi sebagai berikut Mas Sastra Atmadja (Madja), Raksasasmita (Radjagaloeh),  Singamenggala (Pasirlangoe), Wintalasastra (Ganeas), Raden Soemawidjaja (Bantaroedjeg), Koesoemawidjaja (Tjidoelang), dan Mas Sastrawigoena (Lemah Poetih).
Dari sisi kelembagaan pertanian, Belanda melakukan reorganisasi. Pada bulan Januari 1905, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan satu instansi kedinasan untuk mengurus segala hal yang ada hubungannya dengan bidang pertanian. Department Van Landbouw resmi berdiri berdasarkan pada keputusan Raja Belanda Staatsblaad  nomor  380  tertanggal  28  Juli  1904.
Pemerintah Hindia Belanda memandang pertanian sebagai suatu yang sangat penting. Latar belakang pendidikan para Bupati, selain pendidikan di bidang kepamongprajaan juga dilengkapi dengan pendidikan di bidang pertanian. Raden Mas Adipati Aria Soeriatanoedibrata salah satu Bupati Majalengka yang meletakkan dasar bagi kemajuan Kabupaten Majalengka, selain lulusan Osvia (IPDN sekarang)  Ia juga lulusan Landbouwschool Buitenzorg. Berbagai infrastruktur dan regulasi di bidang pertanian dibuat. Di setiap Kabupaten ditempatkan pengawas atau opzichter. Untuk Kabupaten Majalengka, ditunjuk W. Polman, Pengawas Kelas III. Salah satu tugasnya adalah mengawasi Perkebunan Sirih di Kabupaten Majalengka. Sebagai tempat tinggal pengawas pertanian, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan gedung yang terletak di jalan yang menghubungkan Majalengka dengan Maja. Nama jalan ini berganti beberapa kali, sempat bernama Jalan Raya Timur, Jalan Ibu Tien Soeharto, dan sekarang bernama Jalan Kiai Haji Abdul Halim.
Seiring perjalanan waktu, terjadi pula perubahan pada fungsi Gedung Landbouw yang ada di kota Majalengka. Gedung  yang berdiri di samping SPBU yang berseberangan dengan rumah dinas Wakil Bupati Majalengka, bekas Kantor Kecamatan Majalengka.
Gedung ini pernah ditinggali oleh Patih Majalengka, Raden Wira Soemantri. Selain menjadi patih beliau juga merangkap menjadi Hoofddistrick Majalengka kemudia disebut Wadana. Itulah sebabnya gedung Landbouw itu juga pernah disebut gedong Patih dan juga gedong camat baheula.
Gedung Landbouw kini usianya sudah mencapai 113 tahun. Walau sudah berusia satu abad lebih, gedung landbouw masih gagah berdiri.  Pada bagian depan terdapat tiang utama sebanyak 4 tiang,  masing-masing terdiri atas 2 buah tiang. Ornamen hias bergerigi terdapat di bawah plafon. Satu pintu utama diapit oleh 2 pintu di kiri kanan sehingga seluruhnya terdapat 5 pintu di bagian depan gedung. Gedung dikelilingi oleh pagar pembatas setinggi 2 meter.

Rumah tersebut berdiri di atas tanah 783 meter persegi. Luasa bangunan keseluruhan 260 meter persegi. Terdapat 4 kamar tidur dan 2 kamar mandi.
Ada keterangan yang kami dapatkan dari percakapan antara ketua Grumala Drg Andi Iman Wandi dengan ketua RW setempat bahwa yang disebut Tuan Landbouw adalah Raden Latief Wira Sumantri ( masih ada pertalian saudara dgn Djaksa Endoen Wira Soegena ) . Untuk mencocokan ketrangan tersebut saya buka kembali buku catatan daftar almanak priyai yang bertugas pada masa Afdeeling Majalengka.Ada dsitu dituliskan bahwa pada tanggal 7 Oktober 1896 diangkat seorang Patih Afdeeling Majalengka bernama Raden Wira Soemantri yang pada waktu itu Patih Afdeeling Majalengka merangkap jabatannya sebagai Wedana Majalengka.
Pada saat itu Afdeeling Majalengka dibagi menjadi dua control Afdeeling yaitu control Afdeeling Rajagaluh dan control Afdeeling Talaga.Control Afdeeling Radjagaloeh beribukota di Leuwimunding yang membawahi distrik Majalengka dan Jatiwangi sementara itu control Afseeling Talaga beribukota di Madja dan membawahi Distrik Talaga dan Maja ( staatblaad van NI ,nomor 310,tahun 1900 ).
Kemungkinan setelah terbentuknya Departemen Van Landbouw di Majalengka pada tahun 1905 zelfstanding Patih atau Patih Afdeeling Raden Wira Soemantri diangkat menjadi Hoofd ( Kepala ) Departemen Van Landbouw di Afdeeling Majalengka.Rumah Patih atau Gedong Landbouw ( Sebutan pemilik ) kemudian menjadi milik keluarga Bapa Dali yang merupakan cucu dari Raden Latief Wira Soemantri hingga saat ini.Namun sayang rumah ini tidak terawat dan terpampang spanduk akan dijual.
Salah satu Gedung bersejarah Kota Toea Madjalengka, berharap terus terjaga kelestariannya walau nanti berpindah pemilik....Semoga..!!
Januari 1905....
Pemerintah kolonial Belanda mendirikan satu dinas untuk mengurus bidang pertanian. Pertanian.Departement Van Landbouw resmi berdiri berdasarkan surat keputusan raja Belanda staatblaad no 380 ping 28 juli 1904...( sumber sejarah dinas Pertanian ).
(Naro, 7 Januari 2018)



Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.

Gambar mungkin berisi: luar ruangan