Minggu, 16 September 2018

PASAR MAMBO

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
(Photo: Pasar Mambo Sekarang)


Photo: Prapatan Mambo tahun 1947 an
koleksi photo keluarga Zainal Ariefin


(Pasar Mambo, Ilustrasi oleh Heindry)


Ma juju yang mulai berjualan tutut ditahun 1981,
Meneruskan mertuanya Ma Safnah yang berjualan kacang rebus dari tahu 960
Sumber photo: Toni Tresna, 9 Febuari 2016

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Tutut ciri khas Pasar Mambo-Majalengka. Banyak kunyitnya.

PABRIK GULA KADIPATEN

Mesin Pabrik Gula Kadipaten tahun 1895 yang masih menggunakan mesin jenis uap.
Jaman itu ada merk mesin uap buatan Prancis yang terhitung tangguh diparkai di hampir pabrik gula di daerah pulau jawa yaitu merk B.LAHAYE & BRISSONEAUF buatan tahun 1884.
Tadinya tidak terpikir bagaimana mesin uap yang beratnya puluhan ton bisa nyampai ke Kadipaten dari negara Belanda dan masih dalam keadaan built up. Tidak bisa dipisah beberapa bagian. Di bawa satu unit gelondongan ke Kadipaten, 
Ternyata menurut kabar cerita dibawa lewat jalur sungai melewati Sungai Cimanuk. Turunnya di dermaga Karangsambung, diangkut menggunakan rakit ditarik ku parahu nu tadinamah dibawa ti Walanda make kapal uap,eureun di laut Indramayu,cenah ceuk carita oge samemeh msn pabrik gula diturunkeun ka rakit,para teknisi ngadagoan heula walungan Cimanuk loba ngayapak caina,mgkn ngarah parahu nu narik rakitna bisa laluasa nyampe ka Karangsambung.sbraha taun meureun dijalana bisa datang ka Kadipaten.?




(Photo mesin Pabrik Gula Kadipaten tahun 1895)

Sabtu, 15 September 2018

PABRIK GULA JATIWANGI

Pabrik Gula Jatiwangi


Watter Toren ( penampung air )
Pabrik Gula Jatiwangi 1900-1910.
Sumber Antikuarian book.


Kantor Pabrik Gula Jatiwangi sebelah utara
Disebut juga Gedung Kebesaran

Gambar mungkin berisi: salju
jalan raya depan pabrik gula,
Diphoto tahun 1930an ti palih wetan ( caket toko merah )



Gambar mungkin berisi: luar ruangan
Suikeronderneming Djatiwangi 1940
.sumber KITLV, Nederland
koleksi KITLV tahun 1940, situasi di PG Djatiwangi

Gambar mungkin berisi: orang duduk, tanaman, luar ruangan dan dalam ruangan

Gambar mungkin berisi: langit, luar ruangan dan alam





PG Djatiwangi, Koleksi Mevrouw L. Eijkman-Wijnaendts, Tahoen 1940


BATU COWAK

BATU COWAK.
Asa teu tegep,teu dadaw jeung teu rena lamun kokoloyongan teu mawa hasil,itung itung oleh oleh bawaeun nu di imah ,hasil ti miluan Kemah Budaya salian meunang elmu ti baraya seniman jg budayawan nu jadi pamilon di acara Kemah Budaya Ciparay..mangga nyanggakeun..hapunten bilih lepat tulas tulis..hapunten Nun...
Batu cowak ataua batu congklak ayana teu jauh ti lapangan tempat kemah urang ,carita Pa Encob Sobari minangka Pa R T didinya nyebutkeun yen batu cowak etateh urut alat pamilihan kuwu jaman baheula,dimana sakira taun 1832 desa Ciparay masih asup ka wilayah Rajagaluh ngaran desana oge masih Desa Cibatur,Ki Buyut Demang Centong salaku pupuhu desa Cibatur ngayakeun pamilihan pupuhu desa nya alat pikeun saha nu baris jadi pupuhu desa atau kuwu dijieun batu cowak nu jumlahna 17 cowak pikeun adu katangkasan maen congklak,sing saha anu meunang eta jadi pupuhu desa,teuing kumaha jaman harita aturan maena,mung mun diilikan cowaknateh teu jga cowak jaman ayeuna nu simetris,tadinamah suganteh batu cuaca nu pernah kapanggih di Gunung Cakra harita jg kasepuhan Pa Rais,gening aya oge di Ciparay Leuwimunding,ngan beda latar caritana.Batu Cowak ieu oge aya hubungana jg ngaran gantina Desa Cibatur jadi dera Ciparay,dimana batu cowak ieu aya disisi walungan leutik nu loba lauk parayna makana desana ganti ngaran jd Ciparay.taun 1953 tempat ieu dibebenah disaungan jg dipelakan caringin ngan tangkal caringina teu jadi mgkn teu cocok dipelak didinya sbb teu negla jga di alun2,di tempat etamah hieum jg rada paroek,mudah2an batu cowak bisa jadi situs budaya nu kapilihara..mangga kanu bade nambihan keterangan atau ngoreksi.dihaturanan..!
(Naro, 26 February 2017)

(Batu Cowak)

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
(Photo : Mang Iyan & Batu Cowak)

Rabu, 12 September 2018

NUNUK DAN KEBUDAYAANNYA



Budaya yang hampir punah Tenun buhun di Nunuk. 
     Kampung  buhun yang menyimpan potensi berupa keindahan alam dan budayanya. Salah satunya budaya tenun tradisional. Hasil tenun tradisional di Desa Nunuk Baru yaitu kain samping / karembong dan kain boeh / kafan.
Yang ditemui oleh Grumala, ada 2 orang pengrajin yaitu Nini Sumah ma Oyot Iti. Usia keduanya lebih dari 80 tahun. Keduanya sudah jarang bertenun. Tidak seperti dulu satu samping bisa dikerjakan dalam waktu 2-3 hari dan kai kafan sekitar 5 hari. Dengan kondisi sekarang mungkin bisa dikerjakan dalam waktu seminggu dan kadang lebih.
Kendala yang lainnya bahan baku kapas yang susah, jarang yang membudidayakan dan menanam nya karena dianggap tidak produkti. Mungkin lebih menghasilkan untuk menanam jagung atau bawang. Yang menanam kapas, mungkin bisa di hitung dengan jari. 
   Proses yang rumit dan waktu yang lama serta penuh keuletan dan beberapa tahapan bertenun. dari mulai menjemur kapas , mintal kapas, ngarasi benang,mintal benang ke kayu ulak, mihane atau nyisir benang,memasukkan benang ke suri sampai proses terakhir menenun dengan alat yang masih tradisionak yang terbuat dari kayu. Mungkin itu yang memjadi alasan generasi penerusn kurang tertarik Ketika ditanyakan ke cucu nini Sumah juga kurang minat. Dan akhirnya tidak ada generasi penerus yang melanjutkan, padahal pesanan kain samping dan kain boeh / kafan masih ada. karena khususnya ibu ibu dari desa Nunuk masih menggunakan karembong / kaing samping untuk membawa sesuatu daripada menggunakan buatan pabrik. Karembong / kain samping buatan nunuk di hargai 100 ribu rupiah. Untuk kain kafan / boeh dihargai 120 ribu rupiah
     Sangat disayangkan apabila budaya tenun buhun di Nunuk baru punah tanpa generasi penerus. 
Mudah2an ada generasi penerus yang mau dan tertaris untuk melesatrikan salah satu budaya sunda buhun.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
(Photo: Mang Naro dan tinun buhun gadod)

Gambar mungkin berisi: 1 orang
(Ma oyot menunjukkan keahliannya 
meskipun dengan penglihatan yang kurang)


Gambar mungkin berisi: gunung, langit, luar ruangan dan alam
(Photo : Suasana Desa Nunuk yang sangat Indah

Prasati Bedol desa atau perpindahan penduduk dari Desa Nunuk Maja ke Kodasari Ligung

Gambar mungkin berisi: tanaman dan luar ruangan
Sungai Cisuluheun - Nunuk Baru

Perkakas Batu dan Arca di Nunuk
     Perkakas batu seperti ini pernah juga ditemukan di pinggiran Majalengka. Sama seperti "talenan" yaitu alat untuk membuat ramuan alami. 
Yang satunya mirip Arca kepala manusia. Di Majalengka pernah ditemukan di makam "buhun" yang jauh dari kampung.
Bedanya dengan yang di Nunuk yang berukuran besar. Masih dalam tanda tanya, perkakas batu dan arca di Nunuk ini pada jaman apa? Harus ada penelitian yang lebih mendalam dan mudah2an terungkap kehidupan dan kebudayaan di Nunuk di masa silam.
     Apabila ini termasuk arca polinesia, mungkin di Nunuk sudah ada kebudayaannya.
Kita serahkan ke ahlinya
  Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan luar ruangan
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri, luar ruangan dan alam

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih Gambar mungkin berisi: orang duduk dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: luar ruangan Gambar mungkin berisi: luar ruangan

Gambar mungkin berisi: sepatu dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: sepatu dan luar ruangan

Gambar mungkin berisi: luar ruangan





Selasa, 11 September 2018

GUNUNG HAUR

Gunung Haur - Sukamulya - Babakan Jawa.


Bukit yang terbentuk oleh batu-batuan yang besar.
Proses alam atau rekayasa..??

Menunggu sang waktu yang menjawab nya...
Naro, 12 September 2018) 

(Photo ; Gunung Haur)

Istana Bintang

Tanggal 30 November 1953 berdirilah sebuah pusat hiburan yang pada saat itu dinamakan Hollywood Theatre. Namun nama tersebut tidak bertahan lama karena mengacu pada pelarangan nama asing pada masa itu.
Nama Hollywood diganti dengan Istana Bintang yang dikenal oleh masyarakat Majalengka dengan sebutan bioskop ITB.
Lokasi ITB berada di sebelah kanan atau barat dari Toko Setia yang merupakan pemilik bioskop itu sendiri.
Jaman sekarang banyak yang masih punya kenangan dengan ITB. Dari pertama masuk kita antri dan disebut dengan "TUS TAY" singakatan dari "saratus ngantay". Kemudian kita masuk lorong dan akhirnya kita mencari kursi yang masih kosong. Kursi yang terbuat dari kayu. Pada saat itu masih sering terkena "tumbila" dan juga apabila di kursi bagian pojok belakang, suka tercium bau yang tidak sedap. Mungkin karena WC cuma satu dan lumayan tidak terawat. Atau juga penonton takut kehilangan alur film kalau meninggalkan ruangan bioskop untuk sekedar ke toilet.
Masih teringat oleh admin ketika masih kecil, meskipun tidak mempunyai uang untuk beli tiket, sering sekedar nongkrong di depan loket masuk. Dengan harapan ada saudara yang punya tiket dan mengajak masuk. Pada saat itu, kadang-kadang satu tiket bisa dipakai berdua dengan anak kecil.

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih
Photo: Fasad depan Istana Bintang, terlihat beberapa onthel parkir

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
Photo: Fasad depan Istana Bintang

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
(Photo: Kondisi di dalam bioskop, oleh: Nung Nurochman 14 September 2015)

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
(Photo: Kondisi di dalam bioskop, oleh: Nung Nurochman 14 September 2015)

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
(Photo: Kondisi di dalam bioskop, oleh: Nung Nurochman 14 September 2015)

Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.
(Photo: Kondisi di dalam bioskop, oleh: Nung Nurochman 14 September 2015)

Gambar mungkin berisi: 1 orang, lensa kaca mata dan dalam ruangan
Anne Herliane, salah satu putri JN Tanuwidjaja

Gambar mungkin berisi: 1 orang
(Pak Udin, sang penjaga karcis)

Gambar mungkin berisi: 1 orang, berdiri 




Senin, 10 September 2018

KEMAH BUDAYA 2 - GUNUNG KARANG 8-10 SEPTEMBER 2018

Grumala ikut berpartisipasi dalam acara Kemah Budaya yang dilaksanakan tanggal 8-10 September 2018. Kemah Budaya ini diselenggarakan oleh DEKKMA dan disparbud.
Acara Kemah Budaya ini bertepatan dengan Launching buku Edisi kesatu - Grumala yang berjudul Jejak Masa Silam Kota Angin.
Gejlig... Gejlig... Gejlig
Photo-photo yang terangkum dalam FB Grup Madjalengka Baheula maupun anggota GRUMALA.

Liputan wartawan min.co.id nisa dilihat di link di bwah ini:
https://min.co.id/2018/09/11/orasi-sejarah-majalengka-oleh-grumala-di-kemah-budaya-2018/

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, sepeda, pohon dan luar ruangan      

(Grumala memberikan orasi tentang sejarah Majalengka dan peninggalannya)
Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.       Tidak ada teks alternatif otomatis yang tersedia.    Gambar mungkin berisi: 1 orang, tersenyum

      

      
Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, orang berdiri dan luar ruangan      

  Gambar mungkin berisi: 3 orang, orang tersenyum, orang duduk, pohon dan luar ruangan      Gambar mungkin berisi: 10 orang, termasuk Tata Oemi, Ela Nurela, dan Ibrahim Annas, orang tersenyum, orang berdiri dan luar ruangan
(Workshop sejarah oleh Grumala"

Gambar mungkin berisi: 3 orang, termasuk Tata Oemi, orang tersenyum, pohon, luar ruangan dan alam       

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, sepeda, pohon dan luar ruangan 

 Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih, pohon, langit, tanaman, luar ruangan, alam dan air
(menikmati alam di sela-sela kegiatan)